Open Access Journals adalah Ladang Industri, Modal, dan Uang yang Berkedok Ilmu Pengetahuan

Open access journals, apa itu OA? apa itu open access jornals? journal predatory, beall's list, google scholar, scopus, jurnal international, sinta, index jurnal, saluran index jurnal, jurnal terakreditasi. Open Access Journals adalah Ladang Industri, Modal, dan Uang yang Berkedok Ilmu Pengetahuan. abiebdragx.
Open Access Journals - Pada tahun 2012 R Philip Reynolds menerbitkan tulisannya yang berjudul The Good, The Bad, The Ugly: Open Access, and Predatory Publishers. Tulisan ini membongkar betul bagaimana sistem open access journals sangat berbahaya dan efektif membuka jalan bagi para pemilik modal untuk menuangkan kepentingannya. Dampaknya, akan banyak artikel yang terbit dengan kompetensi dan kualitas yang diragukan. Tujuh bulan kemudian, ditempat yang berbeda, Martin Enserink menulis artikel yang kemudian diterbitkan oleh American Association for the Advancement of Scince, membahas hal yang sama dengan lebih tajam dan vulgar.

Seperti bola salju, isu atas dampak buruk sistem open access journals dan permainan menjijikan perusahaan publikasi semakin membesar dan banyak diperdebatkan orang, puncaknya ketika seorang peneliti sekaligus dewan editor jurnal asal Universitas Colorado, Jeffrey Beall menulis daftar jurnal yang sekarang dikenal sebagai Beall's List.

Daftar ini memuat penemuan Beall atas jurnal-jurnal dan perusahaan publikasi yang menerima artikel tanpa melakukan peer review dan mekanisme jurnal yang sesuai. Syaratnya, hanya memberlakukan Article Processing Charge (APC) kepada penulisnya. Daftar ini ia terbitkan di blog pribadinya (https://scholarlyoa.com/publishers/), dan hingga sekarang banyak instansi pendidikan di dunia yang menggunakan daftar ini sebagai rujukan untuk mengidentifikasi suatu jurnal termasuk dalam kategori predatory atau bukan.

Meskipun pada faktanya banyak orang yang masih meragukan keabsahan daftar ini, sejak tahun 2008 Beall sering menerima pekerjaan sebagai editor artikel di berbagai jurnal ternama, di sini ia banyak menemukan tulisan yang memiliki kesalahan tata bahasa, format, hingga konten yang mirisnya semua termaafkan hanya dengan syarat penulis siap untuk membayar proses publikasi. Menginjak tahun 2010, Beall mulai menyusun daftar jurnal yang pernah bekerja sama dengannya dan menerima cara-cara kotor diatas untuk selanjutnya ia tampilkan di blog pribadinya.

2011 hingga 2015 adalah masa yang mengenaskan bagi Beall, ia menghadapi banyak teror dan kecaman hingga ancaman akan membawa Beall ke jalur hukum atas tuduhan pencemaran nama baik dari perusahaan publikasi yang tercantum di blognya. Serangan-serangan politis dan ancaman semacamnya justru membuktikan bahwa daftar yang dimuat oleh Beall sesuai dengan faktanya. Di tahun 2017, akhirnya Blog pribadi Beall di tutup karena desakan yang bersifat politis dari perusahaan-perusahaan publikasi yang tidak terima namanya dicantumkan pada daftar journal predatory.

Tapi walaupun blog pribadi Beall sudah di tutup, banyak organisasi non profit dan komunitas digital yang biasa kita kenal dengan "Anonymouse" sudah menyalin konten daftar journal predatory dan menerbitkanya kembali. Salah satu mesin digital dan perayapan yang juga ikut berkontribusi menyelamatkan daftar ini adalah Internet Archive, di sini, kita masih bisa melihat daftar journal predatory yang di tulis oleh Beall dan patut berterimakasih padanya.

Open Acces Journals: Pertarungan Antara Kepicikan dan Ilmu Pengetahuan

Kiramang dalam tulisannya menjelaskan bagaimana asal mula sistem Open Acces (OA) mulai digunakan oleh Publisher dunia saat ini. Pada permulaan tahun 2000an krisis menimpa banyak perusahaan penerbitan jurnal karena berkurangnya pelanggan. Hal ini di sebabkan karena tingginya tarif berlangganan jurnal yang diakibatkan oleh besarnya biaya publikasi (mencetak hard copy, biaya pengiriman hard copy, dll).

Sebelum OA sepopuler sekarang, biaya publikasi artikel di tanggung oleh pelanggan atau pembaca, Publisso.de menyebutnya sebagai sistem Traditional Journals atau Traditional Publishing. Sistem ini menuntut kepada para penulis untuk mengirimkan karya tulis yang sebagus mungkin. Dengan tim redaksi yang sangat mumpuni dan seleksi yang sangat ketat dalam memilih artikel mana yang akan di terbitkan. Mengapa harus serumit ini? Karena orang hanya mau mengeluarkan uang mereka untuk tulisan yang terbaik. Dan itu hal yang setimpal.

Kemelut yang menimpa banyak perusahaan publikasi ini kemudian menemui titik terang ketika teknologi yang bernama internet datang membawa kemampuannya. Kecepatannya dalam menyampaikan informasi dan kemudahan akses menjadi jalan baru bagi penerbitan untuk memanfaatkan internet sebagai ladang mereka memberi makan keluarganya. Tak perlu lagi membeli kertas atau setidaknya meminta maaf kepada para aktivis lingkungan karena ribuan pohon-pohon yang sudah ia tumbangkan untuk diubah menjadi kertas, atau tak perlu lagi memikirkan berapa persen dana yang disisihkan untuk biaya pengiriman jurnal, dan sebagainya.

Februari 2002 menjadi tonggak perubahan sistem publisitas jurnal. Dalam acara yang diselenggarakan oleh Open Society Foundations di Budapest. Forum ini mendeklarasikan berdirinya Budapest Open Access Initiative yaitu suatu bentuk respon atas perkembangan zaman dengan tujuan mengkombinasikan antara Journal Traditional dengan teknologi terbarukan saat itu, yaitu internet. Dari Hungaria embrio OA mulai tumbuh, tahun 2004 E-Journal lahir, sebagai implementasi hasil forum. Orang-orang mulai meninggalkan gaya lama dalam berlangganan jurnal. Pada masa transisi inilah lahir sistem Open Access, menurut Sarah Conte setidaknya ada empat hal yang ditawarkan oleh OA dan dengan sekejap melibas habis sistem traditional publishing.

  1. Visibility
  2. Cost
  3. Prestige
  4. Speed
Secara praktis pengertian Open Access (OA) ialah membebankan biaya publikasi (APC) kepada penulis, artinya pembaca terbebas dari angsuran berlangganan artikel. OA juga dilindungi oleh lisensi Creativecommons.org dan lainnya yang mengatur hak cipta (Copyright) atas artikel yang diterbitkan. Umumnya OA memberlakukan peer review untuk setiap artikel yang akan di terbitkan. Yaitu, suatu mekanisme peninjauan ulang naskah artikel apakah sudah memenuhi kaidah ilmiah dan syarat-syarat prosedural sebuah publisher yang akan menerbitkannya atau belum. Tujuannya agar kualitas artikel yang diterbitkan sesuai dengan standar keilmuan dan memenuhi syarat serta ketentuan yang berlaku. Sampai di sini, semua terlihat normal dan baik-baik saja. Seolah-olah yang berubah hanya siapa yang perlu merogoh kantong lebih dalam. 

Tapi, apa yang ditemukan oleh Beall sepanjang tahun 2008-2017 membuka rahasia bagaimana para perusahaan penerbitan memainkan OA sebagai ladang segar untuk mengeruk keuntungan sebesar-besarnya tanpa mengindahkan proses ilmiah dalam menerbitkan artikel. Mereka, memfasilitasi tulisan para peneliti yang siap membayar APC tanpa melakukan peer review dan kaidah standar keilmuan. Hingga saat ini lebih dari 1000 publisher jurnal teridentifikasi melakukan jual beli publisitas artikel. 

Entah berapa jumlah pasti artikel yang tidak layak terbit atau menyalahi kaidah keilmuan bahkan terjerat plagiarism yang ditemukan oleh Beall, yang pasti jumlah itu bertambah dan mustahil berkurang.    

Mengapa banyak orang menganggap hal ini lumrah? Karena mereka menggunakan wajah ilmu pengetahuan sebagai landasan mereka melakukan aktivitas ini. Belum lagi manuver promosi yang giat dilakukan. Dua minggu terakhir saya melakukan banyak pencarian untuk tulisan ini. Karena internet adalah ruang tanpa privasi, maka seluruh aktivitas saya selama dua minggu terakhir tercatat dengan rapi, itu menjadi data akumulatif mesin pencari untuk menampilkan iklan yang relevan dengan saya saat ini. 

Dan menurut kalian, iklan apa yang muncul? Meskipun saya tidak serinci mahasiswa jurusan pendidikan dalam melihat sesuatu, saya hitung baik-baik lebih dari 23 publisher berbeda muncul sebagai iklan di browser saya, mereka menawarkan publikasi artikel berbasis OA dengan durasi review 1 bulan alias rapid monthly (fast publication). Belum selesai sampai disitu, mereka juga menawarkan macam-macam paket dan tarif publikasi. Sayangnya saya tidak sampai ke halaman utama mereka, barangkali besar-besar terpampang di sana: kami siap menerima uangmu tulisanmu untuk diterbitkan dan memberikan akses kepada dunia secara gratis untuk membacanya. Mantap!

Model Bisnis Berbasis Open Access Journal


Jika anda mengunjungi halaman Elsevier dan membacanya dengan seksama maka anda akan menemukan bagaimana cara kerja sesungguhnya dari OA, jangan terpaku dengan kiasan yang bersifat definif seperti yang saya tulis di atas. Meskipun dalam hal ini, tidak ada yang salah dari Elsevier ataupun OA. Oknum publisher yang menerbitkan tulisan dengan standar mata uanglah yang mestinya disalahkan di sini.

Ini perlu sekali disampaikan mengingat akan sangat bersangkutan dengan paragraf berikutnya. OA memiliki dua jenis type:

  • Gold open access


Type gold memberikan pilihan kepada penulis untuk menerbitkan tulisannya berbasis OA atau Hybird dan naskah artikel disimpan di situs open accsess journals (untuk Elsevier). Penulis dikenai biaya publikasi (APC) tergantung berapa tarif yang dipatok oleh publisher agar artikel dapat diakses secara bebas (OA), artikel langsung bisa diakses setelah diterbitkan. Penulis juga dapat mengatur hak cipta artikelnya, dalam hal ini apakah artikelnya dapat dikomersialisasi atau tidak.

  • Green open access

Type green memberikan beberapa pilihan untuk unggah naskah. Pertama mengijinkan naskah artikel di simpan secara terpisah di website publisher, jadi tugas saluran pengindex (Google Scholar, Scopus, Thomson Reuters, DOAJ dll)  hanya merayapi situs dan mencatatnya sebagai artikel yang sudah di terbitkan (self-archive). Kedua diunggah pada open archive (Elsevier), dan terakhir naskah disimpan di CHORUS.

Keuntungan menggunakan type green adalah pengiriman dan publikasi artikel tidak dikenai biaya sepeserpun dan bisa diakses secara gratis tapi membutuhkan beberapa waktu setelah diterbitkan. Artikel harus memiliki lisensi dari CC-BY-NC-ND. Untuk Elsevier, artikel yang diterbitkan dengan type green dapat digunakan kembali untuk tujuan apapun sesuai perjanjian yang berlaku.

Indonesia dalam Genggaman Kapitalis Jurnal


Saya berharap anda membaca ulasan di atas dengan seksama agar tidak ada salah penafsiran di sini. Institusi pendidikan di Indonesia saat ini sedang di mabuk jurnal. Kebanyakan institusi ini menerakan publikasi jurnal sebagai aturan yang berantai. Misalnya mahasiswa yang ingin mencapai gelar tertentu ia harus dan wajib menyelesaikan suatu penelitian. Data Penelitian ini selanjutnya disahkan sebagai karya ilmiah, untuk sampai pada tahap ini mahasiswa perlu melalui serangkaian proses peninjauan hasil penelitian, seperti seminar proposal, seminar riset dan kemajuan, seminar hasil, dan sidang. Aturan ini berbeda pada setiap institusi, ini hanya kiasan.

Tapi, Jauh sebelum mahasiswa menyelesaikan tahap itu, ia harus terlebih dahulu mempublikasikan artikel pada suatu jurnal dengan syarat di index oleh saluran tertentu dengan mencantumkan afiliasi nama institusi ia bernaung. Ini mengapa saya katakan beberapa institusi pendidikan di Indonesia memberlakukan aturan publikasi jurnal sebagai regulasi yang berantai. 

Mengapa publikasi jurnal begitu penting dalam dunia akademis? Pengertian idealnya, publikasi jurnal merupakan salah satu laku moral dan yang sifatnya implementatif bagi seorang akademisi untuk membangun khazanah keilmuan. Pendeknya, menerbitkan hasil penelitian adalah salah satu tugas pokok seorang akademisi. 

Selain itu, semakin banyak jurnal yang terbit dengan mencantumkan suatu institusi pendidikan, maka semakin baik institusi tersebut di dunia pendidikan. Ini yang memicu lahirnya aturan mahasiswa diwajibkan menerbitkan jurnal sebagai syarat kelulusan. Dulu, menurut saya, hanya ada tiga tempat di dunia ini dimana semua orang yang saya kenal atau tidak sama sekali dapat berbicara jujur, pertama rumah, kedua toilet, dan terakhir institusi pendidikan. Tapi, semenjak saya terdaftar di salah satu institusi pendidikan saya menyadari bahwa kami dieksploitasi. 

Nahasnya, iklim pendidikan di Indonesia prematur dalam memahami kecepatan peradaban yang begitu pesat ini. Banyak saya temui kawan sekampus dan kampus tetangga yang menerbitkan tulisan mereka pada publisher-publisher yang teridentifikasi predatory, bukan! Bukan karena mereka banyak uang, tapi karena mereka belum mengerti. Meskipun menerbitkan hasil penelitian adalah hal yang terpuji, tapi ini seperti mencuci baju dengan air kencing kerbau. Salah satu contoh kecil mengapa saya berani menulis ini ialah mengenai daftar Beall's List yang saat ini dihosting pada Weebly. Di Indonesia situs ini tidak bisa di buka (bisa jadi di blokir) padahal dengan situs ini, kita bisa dengan mudah menghindari jebakan jurnal-jurnal yang teridentifikasi predatory.

Saya harus menggunakan layanan VPN atau proxy dengan server negara selain Indonesia baru bisa situs ini saya akses dan melihat daftarnya. biar jelas semuanya berikut langkahnya:
  • Jika anda menggunakan dekstop install add on browsec: Firefox | Chrome
  • Untuk pengguna smartphone: Android | Iphone
  • Jika sudah diinstall, aktifkan VPN, gunakan saja server Singapore (SG) gartis ko.
  • Lalu kunjungi situs ini untuk melihat daftar jurnal predatory versi Beall's list: https://beallslist.weebly.com
Program publikasi artikel yang digalangkan oleh institusi-institusi di Indonesia memang baik, hanya saja masih terlalu banyak transmisi pengertian yang tersendat mengenai publikasi jurnal yang sesuai aturan. Alih-alih mengharumkan nama kampus dengan mendogkrak index rank dan menyemai khazanah keilmuan, kini justru sebaliknya yang terjadi. Tapi setidaknya, berkat ketidaktahuan ini banyak pemilik perusahaan jurnal abal-abal yang hidup bahagia. 

Penutup

Demikian ulasan mengenai open access journals, pada artikel berikutnya kemungkinan saya akan membahas mengenai cara agar menerbitkan jurnal secara gratis dan memberikan akses kepada publik tanpa dipungut biaya dengan memanfaatkan Researchgate. Apabila ada yang salah dalam tulisan ini, silahkan kirimkan di komentar, dan bagikan jika bermanfaat. Terimakasih banyak.

Berlangganan artikel terbaru via email, gratis! Jangan lupa konfirmasi di kotak masuk email

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel