Pengertian dan Perbedaan Online Shop, E-Commerce, serta Marketplace

Pengertian dan perbedaan online shop, e-commerce dan marketplace serta ulasan klasifikasi startup dan mana yang lebih tepat digunakan. abiebdragx
Tulisan ini berawal dari pengalaman saya beberapa hari terakhir dan disaat yang sama saya baru menyadari ada perbedaan mendasar mengenai istilah online shop, market place, dan e-commerce. Dunia teknologi kini sedang mengalami masa gemilang dimana berbagai terobosan banyak ditemukan, termasuk menyentuh ranah bisnis. Online shop, Market Place, dan E-Commerce, ya! Salah tiga dari sekian banyak terobosan teknologi yang sedang menjamur dan tumbuh pesat.

Pada dasarnya, online shop, Market place, e-commerce jika dilihat dari kacamata teknologi masuk dalam kategori start-up. Wikipedia menulis definisi start-up sebagai perusahan rintisan yang berada dalam fase pengembangan untuk menemukan pasar yang tepat. Periode start-up muncul kepermukaan dimulai pada kisaran tahun 1998-2000an dan diwaktu yang sama pemakaian domain ekstensi .com (commercial) mengalami lonjakan drastis.

Sehingga, jangan kaget ketika sekarang banyak perusahaan besar atau bahkan perorangan yang membangun situs memakai domain .com, hal ini disebabkan oleh dampak gelembung dotcom semasa permulaan abad milenium jika memakai istilah Wikipedia.

Klasifikasi Start-up (online shop, e-commerce, dan marketplace)

Berjalannya waktu yang memungkinkan start-up berkembang, tumbuh lebih gagah atau tumbang di tengah arus terobosan teknologi. Kini lahir klasifikasi start-up sebagai parameter kelas sebuah start-up.

Ulasan infografis akutahu.com sangat detil menjelaskan seperti apa klasifikasi start-up itu. Ada enam kategori yang menunjukan ukuran start-up dilihat dari valuasi saham yang dimilikinya. Berikut paparannya.

1. Cockroach

Kategori untuk start-up rintisan yang memiliki valuasi saham kecil, tetapi tahan banting dan bergerak cukup agresif dalam pengembanganya, walaupun tidak jarang yang tumbang.

2. Ponies

Pada kelas kedua ini, start-up cukup stabil dan memiliki nilai valuasi saham rata-rata mencapai angka US$10 Juta, meskipun kebanyakan diantaranya masih dalam tahap pengembangan.

3. Centaurs

Tingkatan ketiga sebenarnya tempat peruntungan benar-benar diuji, pasalnya dengan nilai valuasi sebesar US$100 Juta sebuah start-up bisa mendadak ambruk atau sebaliknya.

4. Unicorn

Valuasi saham sebesar US$1 Miliar. Bisa dikatakan, start-up pada kelas keempat ini dihuni perusahaan-perusahaan menengah dan zona nyaman untuk menjauhi lubang kebangkrutan. Indonesia setidaknya memiliki 4 start-up yang masuk dalam kategori ini, dan digadang-gadang dua tahun kedepan merangkak ke level Decacorn.

5. Decacorn

Perusahaan rintisan yang menyandang gelar ini bisa disebut sebagai start-up yang mapan, meraup nilai valuasi sebesar US$10 Miliar tentu menjaga kestabilan kesehatan perusahaan.

6. Hectocorn

Kategori ini adalah tingkat tertinggi dari klasifikasi start-up. Nilai valuasi lebih dari US$100 Miliar. Tentunya Google, Facebook, Microsoft, Apple, Amazon dan perusahaan raksasa lainnya yang pantas menempati kelas ini.

Pengertian dan Perbedaan Online Shop, E-Commerce dan Marketplace

Diawal sudah dibahas bagaimana teknologi saat ini berhasil menempati posisi sentral dalam kehidupan manusia berkat terobosan-terobosan terbarunya. Secara prinsip online shop, market place, dan e-commerce adalah wadah bagi penjual dan pembeli untuk bertransaksi melalui sarana virtual yang ditopang jaringan internet.

Boleh juga disebut sebagai digitalisasi pasar tradisional karena secara praktis tidak ada perbedaan sama sekali. Lantas, mengapa online shop atau terobosan baru jauh lebih digemari sehingga model transaksi konvensional sedikit demi sedikit limbung.

Disini poin utamanya, bahwa secara praktek tidak ada perbedaan sama sekali tapi ditilik dari mekanisme transaksional jauh sangat berbeda. Sederhananya, wadahnya sama yaitu untuk menghasilkan perputaran ekonomi dengan transaksi jual beli namun pada online shop melibatkan perkembangan teknologi untuk menunjang aktivitas jual beli.

Kini, dengan modal jempol, gawai, dan jaringan internet, satu kontainer penuh produk dengan jangkauan lintas negara bisa dibeli tanpa perlu datang langsung ketempat penjualan. Efisiensi waktu bahkan dana menjadi perihal penting yang ditawarkan oleh online shop, sehingga pusat perbelanjaan model konvensional remuk perlahan dikikis zaman.

Menariknya, selain istilah online shop kini lahir pula istilah-istilah lain yang berkaitan dengan aktifitas jual beli secara digital, dan mungkin masih banyak orang bingung atau bahkan belum mengerti pengertian serta perbedaan dari masing-masing istilah tersebut. Berikut ulasannya

Online Shop

Online shop atau toko online ialah media digital yang berfungsi untuk aktifitas jual beli atau sewa jasa secara online. Pembeli, penjual serta penyedia dan penyewa jasa bisa saling berhubungan melalui online shop. Pada prakteknya, komunikasi antar dua belah lihak bisa dilakukan via instan massage seperti Whatsapp, Line dan lainnya.

Sedangkan bentuknya, mengutip Dewaweb online shop sebenarnya tidak memerlukan sebuah situs, cukup menyediakan tempat melalui media sosial sudah masuk dalam kategori online shop walaupun tidak dilarang juga memaki website. Namun, pengertian online shop dibenak banyak orang saat ini salah kaprah jika mengacu pengertian diatas.

Banyak yang menganggap bahwa online shop ialah aplikasi jual beli dan sewa jasa yang disediakan oleh pihak ketiga sebagai tempat untuk berkomunikasi dan transaksi antar penjual-pembeli. Walaupun kesalahan ini tidak fatal sama sekali, barangkali ulasan dibawah ini bisa mencerahkan.

E-Commerce

Saya kira, istilah ini kalah terkenal dengan istilah online shop, tatapi tidak menutup kemungkinan dari sekian pembaca sudah banyak yang tau dan bisa jadi saya yang sebenarnya baru tahu haha.

Konsep e-commerce sebenarnya sangat sederhana dimana sebuah situs yang dibangun untuk menunjang kegiatan jual beli atau sewa jasa secara online tetapi hanya dari satu penyedia. Artinya, e-commerce ialah istilah untuk menyebut sebuah situs yang hanya menjual atau menyewa jasa dari satu produsen atau penyedia jasa yang resmi.

Contohnya, ada produsen terkenal sebut saja A, dan produsen tersebut memiliki situs yang menampilkan produk A saja dihalaman websitnya dan dibangun untuk memudahkan konsumennya. Maka website tersebut masuk dalam kategori e-commerce. Mengertikan? Mantaap!

Marketplace

Jika anda sekarang menggunakan perangkat smartphone didalamnya terpasang aplikasi jual beli atau sewa jasa macam Alibaba, Google Marketplace, eBay, Amazon, Bukalapak, Tokopedia dan masih banyak lainnya. Maka anda sebenarnya telah memasang marketplace bahkan menggunakannya.

Diawal saya katakan salah kaprah karena banyak orang yang mengira bahwa online shop dan marketplace adalah dua istilah yang sama, yang seharusnya jika sama artinya ngapain harus ada dua istilah, jika jawabanya biar beda, artinya beda bukan sama haha ngelantur.

Secara prinsip mungkin sama, belanja, sewa jasa secara online. Tapi, banyak sekali aspek penting lainnya yang tidak dimiliki oleh online shop ketimbang marketplace. Pada marketplace dua pihak yang melakukan transaksi jual beli harus melalui campur tangan pihak ketiga yakni pemilik marketplace, tujuannya agar transaksi berjalan aman dan lancar serta tidak merugikan kedua pihak.

Konsep online jauh lebih bebas, dimana pihak pembeli dan penjual bisa langsung bertransaksi secara online tanpa memikirkan jaminan dan keamanan transaksi. Begitupun pada e-commerce. Disinilah perbedaannya. Maka dari itu kenapa sekarang marketplace begitu digemari banyak pengguna karena selain menghadirkan efisiensi waktu dan dana juga menjamin keamanan transaksi.

Saat ini, terobosan berupa mekanisme transaksi dengan keamanan ketat yang diberlakukan marketplace sangatlah ampuh menekan tindak penipuan atau kecurangan lainnya. Bahkan pada tingkat marketplace yang sangat besar macam eBay, Amazon atau di Asia yaitu Alibaba, transaksi dilakukan sangat ketat dan memusingkan bagi yang belum terbiasa ketimbang marketplace dalam negeri yang secara angka perputaran dananya tidak terlalu besar.

Mana yang lebih baik antara Online Shop, E-Commerce atau Marketplace?

Melihat ulasan pengertian dan perbedaan diatas, tentu lebih condong untuk mengedepankan marketplace sebagai media untuk transaksi online. Jaminan kemanan yang tinggi serta fitur-fitur pendukung lainnya seperti diskon, cashback lebih banyak tersaji pada marketplace ketimbang model transaksi online lain.

Selain itu, marketplace dalam ruang start-up juga dapat meraup nilai kepercayaan publik apabila sudah menduduki tingkatan tertentu. Seperti yang sudah saya sebutkan di atas ada beberapa start-up berupa marketplace yang masuk pada level tinggi. Level-level yang sudah saya bahas di atas diambil dari ukuran valuasi saham, nah valuasi saham yang tinggi lahir dari masifnya interaksi pengguna terhadap start-up tertentu. Pertanyaanya, apa yang menyebabkan banyak pengguna memakai start-up tersebut?

Jawaban paling sederhana ialah karena tidak mengecewakan alias memuaskan. Maka start-up dalam hal ini marketplace yang menduduki level tinggi pada klasifikasi start-up merupakan cerminan kepuasan pengguna, maka mana yang pantas atau ideal digunakan, anda pasti bisa menilainya sendiri.

Penutup

Sekian ulasan mengenai pengertian dan perbedaan online shop, e-commerce dan marketplace. Semoga ulasan ini bermanfaat dan jika ada salah bisa dikoreksi melalui kolom komentar dibawah ini, tentunya itu sangat berharga bagi saya pribadi. Terima kasih banyak. 

Berlangganan artikel terbaru via email, gratis!:

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel