Pencerahan Sebagai Kebohongan Massal - Frankfurt School

Dalam Postingan kali ini saya akan mencoba mengupas sedikit mengenai teori Max Horkheimer dan Theodor W. Adorno dari artikelnya yang berjudul The Culture Industry: Enlightenment as Mass Deception, Dua tokoh ini adalah anggota dari pentolan Mazhab Frankfurt, tidak aneh jika banyak konsep-konsepnya ataupun teori yang dilontarkan kelompok ini bertujuan untuk mengkritik kemapanan, sistem kapitalis, kelompok dominan secara keras. Pemikiran-pemikiran tokoh atau anggota Mazdhab ini kebanyakan dilatar belakangi oleh teori-teori Marxisme. Semangat yang dilandaskan pada nilai-nilai moral dan percaya bahwa teori Marx bisa menjawab tuntutan zaman, didasari hal-hal tersebut, sering kali kelompok ini memunculkan konsep-konsep baru yang berupa kritik sosial dan budaya.
The Industry Culture: Enlightenment as Mass Deception (Max Horkheimer & Theodor W. Adorno) (1979)
Pencerahan Sebagai Kebohongan Masal 

“Pasar bisa diciptakan”- Efek Rumah Kaca, Setelah revolusi Industri mencuat deras pada abad 18 dibarengi dengan gerakan pencerahan, sebuah dialektika yang menjunjung tinggi pengagungan pada rasio,  Max Horkheimer salah satu diantara pelakunya, mulai menganalisa sirkumstansi masyarakat pasca industri dan mengkritik keras karna tidak sesuai dengan konsep pencerahan berbentuk rasionalitas itu sendiri. Bersama sejawatnya di Mazhab Frankfurt yaitu Adorno, ditemukan oleh keduanya bahwa Industrialisasi budaya mencanangkan budaya sebagai produk, sebagai barang dagangan yang sebenarnya budaya bersifat natural entah dalam kemunculannya atau perkembangannya, budaya memiliki nilai estetika yang sejatinya tidak bisa perjualbelikan, lalu produk budaya tersebut katakan musik atau karya seni kehilangan esensinya, nilai absolutnya, dipaksakan menjadi sebuah barang dagang yang dicap dengan sederet nominal dan lebih parahnya diproduksi massal. Tidak sampai disitu, para produsen budaya dalam industri buta ini membutakan konsumen, mengatur kasadaran penuh konsumen dengan iming-imingan yang disebarkan oleh media berbentuk iklan dan di kuatkan dengan sebaris kata bernuansa ideologis. Tujuan utama dari manipulasi ialah melilit sehabis mungkin apa yang bisa dihabiskan demi kelancara hidup produsen tanpa mengindahkan moral sekalipun.

Disinilah teori industri menuai titik awal tumbuhnya, memulai persepktifnya dari sistem kapitalis, teori ini meminta dengan tegas kepada manusia untuk lebih sadar semisal  saat ajang MTV menyiarkan tangga lagu dan dibariskan yang terbaik dari kesepuluh sampai kesatu, maka karya lain yang tidak tercantum disana diasumsikan tidak layak untuk didengar khalayak, MTV kali ini, menanamkan persepsi kepada masyarakat atau penontonnya bahwa mereka adalah lembaga standar sebuah kesenian bermusik, yang berarti ada jual beli/kompromi yang di mainkan, ada semacam penggiringan opini yang di paksakan MTV secara kontinu dengan gandengan media dan iklan untuk mengambil alih kesadaran masyarakat dalam hal melihat musik yang baik dan buruk,  namun sejatinya, dalam seni, Estetika adalah bentuk tunggal penilaian bukan pendapat segelintir lembaga macam MTV yang hanya memperdulikan hak siarnya tetap top range. 

Katakan saja musik populer yang berkembang sekarang, seperti kebanyakan grup musik di tanah air yang mengambil tema yang sama, percintaan, kesenduan dalam setiap esensi karyanya atau kelompok laki-laki yang berjingkrak ria kemayu atau lagi segerombolan perempuan yang berusaha sebisa mungkin terlihat seperti bocah-bocah TK walaupun sudah berusia lebih dari 25 tahun, standarisasi produk ini di bentuk oleh kaum produsen dengan mengatasnamakan sebagai kebudayaan yag sedang berkembang, atau melabelkan tema bahwa kebudayaan bermusik seperti ini adanya, secara tidak langsung khalayak di suapi ilusi-ilusi manipulatif bernama budaya yang sejatinya hanya kesemuan belaka, pada pangkalnya mereka laris manis di layar kaca, menjadi bahan empuk bagi media massa untuk di tulis, menjadi santapan segar bagi kongsi-kongsi kapitalis dan parahnya, masyarakat dipaksa ikut serta bersama menyantap suguhan tersebut. Berkat kegigihanya, ideologi postmodern tertanam kuat dalam budaya populer sehari-hari yang hampir tidak ada orang yang dapat membedakan mana kebenaran atau kepalsuan, realitas dan ilusi. Ironi.

Sekali lagi saat industri menjadi komoditas yang paradoksial berkembang maka manusia sejak saat itu telah dan sudah ikut serta menjadi antek-antek kapitalis secara tidak sadar dalam struktur budaya yang dikomersialkan. Walaupun peran yang paling besar dipegang media massa, ya, karna tidak bisa dipungkiri media massa adalah pemegang penuh penyebaran informasi, media massa menjadi tumbal untuk disalahkan bagi sistem kapitalis karena perannya sebagai penyebar informasi. Pada dasarnya Horkheimer dan Adorno bermaksud memperjelas secara rasional struktur yang dimiliki oleh masyarakat industri sekarang, teori kritis yang di bawa Horkheimer tidak berurusan dengan prinsip-prinsip umum apalagi membentuk ide, tujuannya ialah membebaskan manusia dari irasionalisme, dari pembodohan, dari hegemoni sistem, dari rahang kapitalis. Namun sangat disayangkan karna luasnya cakupan bahasan pada teori ini sehingga menimbulkan justifikasi nilai dan analisis yang prematur. Dan lagi Marx sendiri sebagai tokoh yang diaggungkan kedua tokoh ini pada akhirnya tergelimpung dalam arus kapitalis, atau Lenin di Rusia sana di akhir gerilyanya, juga bergumul dengan produk-produk kapitalis yang berbentuk suplai alat milter perang.

Sumber: The Industry Culture: Enlightenment as Mass Deception (Max Horkheimer & Theodor W. Adorno) (1979)

Berlangganan artikel terbaru via email, gratis!:

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel